Bandar BolaBerita Bola,SOSOK Johan Cruyff memang sudah tidak asing bagi telinga para pencinta sepakbola di dunia, terutama para pendukung Barcelona dan Ajax. Pemain berkebangsaan Belanda ini pernah menjadi pemain Blaugrana di era 70-an dan kini menjelma menjadi salah satu legenda klub asal Katalunya tersebut.

Namun kehebatan Cruyff tidak berhenti di tengah lapangan. Saat memutuskan gantung sepatu, pria kelahiran 25 April 1947 itu memutuskan untuk menjadi pelatih. Klub pertama yang menerima jasa Cruyff adalah Ajax Amsterdam yang merupakan tempat ia pertama kali bermain sebagai pemain profesional.

Perjalan Cruyff tidak terlalu lama di Amsterdam sebelum akhirnya memutuskan hijrah ke Barca pada 1988. Di sini lah ia akhirnya menemukan jalan sebagai salah satu pelatih top dunia. Bersama Blaugrana, ia akhirnya mampu menciptakan sepakbola indah yang berujung pada segudang prestasi.

Tapi perjalanan Cruyff bersama Barca tidaklah mudah. Pemegang tiga trofi Ballon d’Or itu harus mengubah tradisi klub yang semula hanya peduli pada keunggulan fisik menjadi membangun kecerdasan pemain. Cruyff juga mengubah cara bermain dan berlatih klub yang lebih memuja permainan fisik dan pragmatis menjadi seni bermain bola yang indah, menghibur namun berbahaya.

Lalu pada 1986, ada sosok pemain yang tidak terlalu tinggi yang datang kepada Cruyff, dan ia adalah Josep Guardiola. Guardiola datang dengan keyakinan bahwa ia lebih bagus dari pemain yang memiliki tinggi di atas 180 sentimeter (standar klub saat itu) dan bisa menjadi pemain profesional. Guardiola tidak sendirian dalam daftar pemain Barca yang tidak lolos seleksi fisik. Masih ada nama-nama seperti Albert Ferrer, Sergi atau Guilermo Amor yang menghuni skuad Cruyff kala itu.

Cruyff percaya dengan kemampuan-kemampuan pemain “mungil”-nya tersebut. Ia yakin meski pemainnya tidak memiliki fisik yang menjulang, mereka memiliki kemampuan dalam memainkan bola dari kaki ke kaki dengan cepat dan menekan lawan layaknya seekor tikus. Bahkan secara khusus, Cruyff memuji penampilan Guardiola yang sangat baik mengolah bola.

Kepercayaan Cruyff pada Guardiola menjadi cikal bakal lahirnya sepakbola indah di tanah Spanyol. Jika Cruyff tidak datang ke Barcelona, mungkin saat ini kita tidak akan melihat pemain sekelas Xavi Hernandez maupun Andres Iniesta yang berlaga di tengah lapangan, apalagi keduanya tidak memiliki fisik yang tinggi.